Jumat, 04 November 2011

Sekeping Perjalanan Penuh Syukur (part 1)

Alhamdulillah, sudah 3 tahun titel dokter saya sandang... Disaat kuliah dulu, pengen banget cepat-cepat lulus, gimana sie rasanya jadi dokter itu? Pengen rasanya cepat-cepat berakhir hari-hari Koasisten yang katanya melelahkan, tugas-tugas yang banyak, jaga, perceptoran..

Sekarang, cita-cita itu saudah menjadi kenyataan, awalnya meras lega banget, berakhir sudah masa-masa melelahkan. Ternyata, Alhamdulillah saya cepat sadarnya, kalau masa itu adalah awal sebuah perjuangan, masa berbakti kepada masyarakat, mempraktekan ilmu yang sudah didapatkan di dunia nyata. Saya pernah bekerja di Puskesmas selama lebih kurang 1,5 tahun, berada di daerah yang masih kental dengan budaya masyarakatnya. Banyak cerita terukir di sana. Nanti ada masanya saya akan bercerita bagaimana suka-dukanya di sana.

Saat ini saya sedang menjalani masa residensi, saat yang membuat ritme hidup saya begitu tidak karuan hahaha.. Pada awalnya saya sempat pesimis, berpikir 'mo jadi spesialis kok susah amat sie, ribet amat, banyak banget pengorbanannya', korban harta, benda, tapi yang paling sadis korban perasaan huhu :(

Alhamduliilah perasaan seperti itu hanya sesaat saja. Berkat nasehat para senior, guru-guru dan konsulen tercinta perasaan tersebut lambat laun menjadi optimis...Semua perjalanan ini harus dinikmati, harus dijalani dengan segenap rasa syukur. Ternyata cuma satu rahasianya, berkacalah pada pasien-pasien kita... Saya baru merasakan saat paling sulit selama saya menjadi dokter atau menjalani masa residensi adalah, bukan saat ujian, bukan saat mo visite, atau bukan pada saat konfrensi klinik ataupun laporan kematian.. Saat paling sulit adalah pada saat mengatakan kepada pasien dan atau keluarganya tentang penyakit yang dideritanya, 'informed consent'.. Sampai saat ini saat yang paling sulit adalah mengatakan kalau pasien saya terinfeksi HIV-AIDS atau gagal ginjal kronik yang harus mendapatkan terapi penggantian ginjal atau hemodialisis atau yang sering kita sebut 'cuci darah' seumur hidup...

Berbicara mengenai penyakit HIV-AIDS, saya punya cerita tersendiri. Kebetulan saat ini saya sedang berada di sub divisi Infeksi, di mana setiap hari bertemu dengan pasien yang notabene terkena infeksi, baik infeksi bakteri sepeti demam tifoid, infeksi parasit, infeksi jamur dan infeksi virus seperti demam berdarah atau HIV-AIDS. Hampir setiap hari saya bertemu dengan pasien-pasien HIV-AIDS. Dulu mungin saya tidak begitu kaget karena pasien-pasien yang datang ke emergensi Insya Allah mudah dikenali, feeling kita sebagai dokter cepat mengatakan kalau ini pasien AIDS, karena datang sudah stadium III atau IV, di mana hampir di seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki dipenuhi infeksi oportunistik, infeksi yang terjadi karena menurunnya daya tahan tubuh karena terjangkit virus HIV-AIDS. Apalagi yang bisa menerangkan keadaannya kalau bukan ada suatu infeksi yang menyerang pertahannan tubuhnya... Mulai dari meningitis, infeksi otak karena tuberculosis, criptocoocus, toxoplasmosis atau karena HIVnya sendiri. Kemudian infeksi jamur di dalam mulut, tenggorokan yang membuat pasien nyeri menelan, atau tidak nyaman dalam makan atau minum, infeksi paru-paru karena tuberculosis atau jamur lain, infeksi usus karena tuberculosis di mana pasien akan mengeluh buang air besar mencret yang lama atau kronik (lebih dari 14 hari yang tidak sembuh-sembuh walaupun sudah diobati) sehingga terjadi penurunan berat badan pasien yang drastis. Infeksi opportunistik kadang sampai ke kulit, di mana akan tumbuh beruntus-beruntus merah seperti cacar, gatal, hampir di seluruh tubuh yang sering disebut 'Papular Pruritic Eruption'. Masih banyak lagi infeksi opportunistik lain yang isa menyerang orang-orang yang terinfeksi HIV ini..
Pada saat pasien datang dengan kodisi seperti itu, yang ada dalam otak adalah AIDS. Untuk membuktikan itu harus ada suatu pemeriksaan darah, yaitu pemeriksaan Anti HIV yang positif.. Masalahnya lagi untuk melakukan pemeriksaan ini kita harus seizin pasiennya dulu. Banyak dokter, terutama saya mengalami kesulitan untu bicara di sini, mengingat HIV-AIDS masih sangat tabu di negara kita. Pasien, keluarga, bahkan masyarakat kita belum bisa menerima keberadaan penyakit ini. Kemudian tidak sampai disitu, jika pasien sudah setuju dan diketahui positif, tugas kita selanjutnya adalah memberi penjelasan bahwa istri, pasangan atau anak mereka juga harus diperiksa, menginggat virus ini bisa ditemukan di dalam darah, cairan kelamin dan air susu ibu.
Sebelum memulai pengobatan HIV-AIDS, dimana obatnya harus diminum seumur hidup, pasien harus menjalani 'konseling adherence' dulu, konseling mengenai kepatuhan dalam pengobatan. Pasien harus mengetahui kalau dia harus minum obat setiap hari tepat waktu. Sebelumnya jika pasien dengan infeksi oppotunistik, infeksi opportunistiknya harus diobati dulu sampai beberapa waktu tertentu. Kemudian juga sebelum memulai pengobatan, pasien harus menjalani beberapa pemeriksaan darah seperti keadaan darah, ginjal, hati karena beberapa obat mempunya efek samping seperti anemia, toksik terhadap hati atau ginjal. 

Sebagaimana yang telah saya ceritakan tadi, bertemu dengan pasien-pasien HIV stadium III-IV atau yang sudah dibilang AIDS tidaklah begitu kaget karena mudah dikenali... Lalu bagaimana dengan mereka-mereka penderita HIV stadium I dan II. Pada stadium I pasien tidak punya gejala, mereka sama seperti orang normal kebanyakan, pada umumnya mereka mengetahui diri mereka positif saat disarankan diperiksa karena sebelumnya diketahui pasangan mereka positif atau pasangan mereka yang masih muda meninggal dunia karena katanya terkena penyakit infeksi berat. Begitu juga dengan anak-anak mereka yang diketahui positif saat saat orangtuanya diketahui positif HIV.
Atau malah ada ketika seoarang anak sakit, terkena diare begitu lama, sudah diobati tapi tidak sembuh-sembuh, saat diperiksa HIV ternyata positif. Kita juga harus menawari kedua orangtuanya untuk periksa HIV. Banyak pasien-pasien baru mengetahui jika dirinya terkena HIV saat anaknya sudah diketahui HIV.

Bercerita tentang keseharian saya, bertemu dengan mereka-mereka yang setiap bulan harus ke poliklinik, kontrol, mengambil obat begitu membuat saya banyak mengucap syukur. Banyak pelajaran yang dapat saya ambil di sini.. Ada seorang yang dulunya pemakai narkoba suntik, sekitar 10 tahun yang lalu dia pemakai bersama 10 orang temannya, dia bercerita begitu bersyukurnya ia ketika dia mengetahui dirinya terkena HIV saat masih stadium II, dia masih sempat menjalani pengobatan ini, masih diberi kesempatan untuk mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang positif, karena 8 temannya yang lain sudah mendahului dia, ada yang meninggal diketahui positif, sempat menjalani pengobatan, bahkan ada yang meninggal dunia belum sempat diperiksa HIVnya.
Ada seorang yang ibu muda, yang sudah ditinggal mati suaminya, saat itu dokter menganjurkan dia dan anaknya untuk mau melakukan pemeriksaan HIV, karena suaminya meninggal karena HIV. Ternyata si 'Ibu muda' possitif, tetapi Alhamdulillah anaknya yang baru berusia 4 tahun negatif.. Kebayang ga sih, bagaimana perasaan si Ibu, sudahlah ditinggal suami, dia juga sebagai korban ikut positif, harus membesarkan anaknya seorang diri. Dia bercerita kepada saya, saat pertama mengetahui dirinya positif, dia tidak bisa menerima keadaan ini, dia sempat mengurung diri di rumah selama 1 tahun, dia tidak mau keluar rumah karena malu sama tetangga. Anaknya diurus oleh orangtuanya. Syukurlah dia capat sadar, jika dia seperti itu siapa lagi yang akan menemani dan membesarkan anaknya? Dia tidak mau terpuruk begitu lama dengan kondisi seperti itu, dia bangkit, setiap hari dia berdoa dalam sujud panjangnya di sepertiga malam. Pada saat itu kadar CD4 nya masih tinggi, dia berada di stadium I, tanpa gejala apa-apa. Dokter memutuskan untuk belum memulai pengobatan pada ibu ini, yang harus dilakukan ibu ini adalah selalu menjaga kesehatan, menjani pola hidup sehat dan selalu kontrol setiap 3 bulan, dimana jika ditemukan CD4 yang menurun atau atau gejala klinis barulah pengobatan dimulai. Sudah 2 tahun ibu ini saat pertama kali dia diketahui mengidap HIV, tapi sampai saat ini CD4nya bagus tanpa ada gejala klinis, tidak dalam pengobatan. Ibu ini sekarang aktif sebagai nara sumber dalam acara-acara penanggulangan HIV-AIDS.. Subhanallah...

Pernah saya berikir, bagaimana dengan mereka yang sudah diketahui HIV positif, mereka masih sangat muda, bagaimana hidup mereka ke depan, khususnya mereka yang terkena HIV korban dari pasangan mereka sebelumnya? Mereka ingin menikah?. Bagaimana dengan mereka, apakah ada yang mau dengan mereka yang sudah diketahui mengidap HIV-positif? Allah begitu sangat menyayangi hambanNya.. Ada seorang yang diketahui HIV positif, dulunya terdampar dalam pergaulan yang salah, berteman dengan pemakai narkoba suntik sampai ikut terjerumus. Ketika dia insyaf, dia sampai tidak percaya ada yang mau menikah dengan dia, sampai dia bilang.. Dulu, 'Love is blind dok, saya begitu mencintai narkoba dari apapun juga sampai setiap pake buta, itu jarum punya siapa, ga penting, yang penting saya fly'... Kalau sekarang 'Love is a miracle. Ada seseorang yang akan menemani kehidupan saya ke depannya, yang selalu akan menyemangati saya dalam menjalani kehidupan ini, yang akan mengingatkan saya untuk minum obat hehehe'.. 
Setiap saya mendengar cerita dengan mereka yang positif yang sedang dalam pengobatan, mereka begitu sayang sama keluarganya, sayang sama pasangan, sama anak-anaknya, baik yang juga positif maupun negatif.. Mereka begitu menjaga anak-anaknya dari pergaulan bebas... Mmmhhh, tidak mau kejadian itu terulang kepada generasi berikutnya.

Tetapi tidak semua cerita begitu indah. Saya masih punya pasien yang belum bisa menerima dirinya, belum bisa menerima pasangannya, saling menyalahkan dan akhirnya bercerai.. Ada juga yang masih belum bisa berubah, masih asyik dengan 'pesta fly nya', walaupun mungkin dengan jarum yang sudah tidak berbagi, sex bebas yang tidak bertanggung jawab akan penularan kepada orang lain.

Sudah 1,5 bulan saya intens dengan pasien-pasien ini, begitu saya menyadari bahwa perjalanan ini selalu penuh dengan hal-hal yang harus saya syukuri, perjalanan yang terus membuat saya bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepada saya. Perjalanan yang harus membawa manfaat pada sesama, semoga profesi ini dan cerita yang saya bagi dapat memberi hikmat bagi setiap yang membacanya.

Buat para teman-teman semua mari kita bersama-sama mewaspadai terjangkitnya HIV-AIDS ini karena saya begitu percaya ini baru sebagian kejadian yang terdeteksi, terpapar oleh pelayanan kesehatan, ibarat fenomena 'Gunung Es', masih banyak yang masih tersimpan, tidak tersentuh, baik karena ketidaktahuan ataupun merasa malu atau masih tabu dengan penyakit ini.
Marilah kita sama-sama menjaga diri dan keluarga kita dari hal-hal yang bisa menjadi faktor resiko terjangkitnya penyakit ini. Jika ada diantara saudara, atau teman dekat kita yang terkena, jangan dikucilkan, perlakukanlah sebagaimana orang biasa, jangan menambah beban mereka.

Ditulis saat sehari bisa liburan @ Kosan, saat jari-jari ini sudah sangat gatal untuk menulis :)

Semoga bermanfaat :)

Minggu, 30 Oktober 2011

Terima kasih Teman...

Waktu berputar, tak terasa kami sudah saling kenal sejak sebelas tahun yang lalu. Saat itu aku masih ragu melangkahkan kaki di sekolah kita, aku gamang ketika pertama kali datang membawa berkas-berkas nem dan raporku, aku tiba-tiba ciut ketika aku tahu aku sudah berada di urutan ratusan, sementara yang akan diterima cuma 60 orang saja. Alhamdulillah seleksi pertama bisa kulewati dan akupun berhak ikut seleksi selanjutnya.

Tapi apakah aku bisa? setidaknya berada bersama kalian ’para juara’ bersama-sama mereguk indahnya masa sma? Merasakan berada bersama ‘para bintang’? merasakan semangat belajar tak kenal lelah? Karena, semua bisa ku lihat di setiap mata kalian, terpancar cahaya bak pantulan cahaya berlian jauh dari dalamnya.. Cahaya yang cuma akan muncul ketika berlian itu sudah jadi, indah berkilau, dan harus melewati seragkaian proses penempaan…

Teman, tak terasa aku sudah berada di tengah-tengah kalian. Sulit bagiku untuk bisa percaya itu. Ternyata itu jugalah kiranya yang membuat aku yakin akan cahaya yang kaian pancarkan dari mata kalian, cahaya yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Sungguh aku beruntung mengenal kalian.
Masih ingatkah teman, tiba-tiba saja kita punya kakak. Tiba-tiba saja kita disatukan di sini, satu atap, satu dapur alias ‘satu periuk’. Tiba-tiba saja kita harus mau bangun pagi, menghentikan mimpi2 indah kita hanya karena ‘bel untuk satu sekolah’ di pasang di kamar kita, apalagi tepat di bawah tempat tidurku. Padahal baru beberapa saat yang lalu masih serasa bergulat dengan rumus-rumus fisika, kalkulator yang masih menyala, pulpen yang masih ternganga. Oh ternyata kita ketiduran bersama-sama. Tiba-tiba saja kita kita harus mau mandi pagi, melangkahkan kaki menuju mushallah untuk shalat berjamaah, bergantian mengisi kultum pagi dan kemudian olah raga.

Teman, masih banyak kenangan kita bersama. Tiga tahun kita bersama. Aku yakin kalian masih mengingat itu. Bagiku, kalian banyak memberiku warna, from ‘nothing to something’. Tiga tahun, waktu yang cukup banyak membuat kita menjadi yang sekarang, waktu untuk merencanakan menjadi seseorang. Tiga tahun waktu yang sangat istimewa bagi kita, ya… bagiku begitu istimewa, 24 jam kita bersama. Alhamdulillah waktu tiga tahun membuatku belajar sedikit ‘tentang manusia’ dari bangun tidur sampai tidur kembali.

Dua hari yang lalu, kita bisa berkumpul, minimal 1x dalam setahun, walaupun tidak semua bisa hadir. Sama seperti aku dalam 2 tahun terakhir yang sangat ingin berjumpa dengan kalian tapi baru kali ini terlaksana. Aku yakin semua ingin hadir, semua ingin berkumpul, tapi banyak pertimbanganlah yang membuat kita tidak bisa hadir. Ku harap bukan karena minder, bukan karena malu, karena ku yakin kalian semua para juara, kalian semua para bintang, jadi buat apa malu, toh kita adalah juara dalam kehidupan kita masing-masing. Bagiku kalian adalah deretan warna pelangi, tak ada yang terang, tak ada yang gelap, yang ada hanya warna cerah, meriah yang senantiasa setia merangkaikanku sebuah pelangi di langitku kapanpun aku mau…

Diposting kembali karena kangen sama teman2 SMU... Di mana kah kalian berada sekarang?

Sabtu, 29 Oktober 2011

Ternyata Masih rezeki Gw..

Waaaahhhh.... ternyata gw baru sadar klo sudah lama tak menulis lagi di note ini, tak coret-coret lagi... Sempat banyak yang bilang..." Eh lu kemana aje? kok, ga up to date lg?"... maksudnya? kok ga eksis lg?" Masa sie...
Klo dipikir2 iya juga sie, tp bukan berarti gw pensiun dari perfesbukan ini... Beberapa waktu ini gw sering ol kok, tapi mungkin just as visiter...Why??  Ya iya lah... gw baru saja memasuki kehidupan baru....
Mmmhhh... sebenarnya banyak kisah, banyak hikmah yang bisa diambil dari hari-hari yang gw jalani di kehidupan baru gw, pengen banget bisa curhat di sini, kayaknya ntar klo dibaca2 lucu kali ya...
Pertama sekali gw bersyukur sekali karena telah diberi nikmat oleh Allah SWT untuk bisa menjadi bagian dari keluarga baruku yang sekarang... karena katanya tidak semua orang bisa berada di sini.. Terima kasih kepada Ibu tersayang atas dukungan dan do'a2nya... Bagaimana tidak, sebelumnya gw tidak pernah membayangkan untuk bisa sekolah lagi (ambil spesialis red). Klo gw pikir-pikir gw dapat duit dari mana untuk sekolah lagi? Tabungan? Gimana mo punya tabungan wong orang baru aja tamat kuliah, jadi baru kerja 1 tahun, baru jadi cpns ceritanya, yg gajinya baru 80%... Cukup ga ya buat hidup? Klo buat hidup 1 bulan Alhamdulillah cukup. Klo buat kuliah? Wah... kayaknya kurang ya... hehehe... Dasar gw ya, cm punya modal nekad, yang penting ikut dulu deh, sapa tau emang rezeki...(kata Ibu gw juga gitu), masalah diterima or ga itu belakangan... Gw masih bingung... gw mo kuliah duit dari mana gitu loh... Singkat cerita Alhamdulillah diterima, trus bingung lagi, ntar bayarnya pake apa? Alhamdulillah dapat beasiswa.. tapi uang bulanannya kan belum dapat?? hahaha.... gw sempat bingung juga tuh.. Okelah uang kuliah ga bayar, uang harian kumaha?..Ya sudahlah, pake yang ada aja dulu, hasil sedikit tabungan dari bekerja dulu hehehe.. Paling-paling cm bisa utk bertahan 6 bulan... Asli gw pasrah tuh...
Wah, ga nyadar ternyata gw sudah 4 bulan menjadi bagian dari keluarga baru ini, gw paling muda ternyata. Gw harus panggil kang atau teh ke semua orang...hahahaha...gw sering dibilang anak kecil... ampe konsulen pun bilang..."kayaknya Ronsen Pasien ini lebih besar deh dari badanmu" hahahahaha...
Dua bulan pertama dalam kehidupan baru gw... kacau banget... Gimana ga? Jam fisiologis gw berubah 180 derjat... Dari tukang molor karena dulu biasa di puskesmas (datang jam 8-pulang jam 2 siang), jadi banyak waktu buat molor, alhasil 1 tahun 3 bulan di puskesmas cukup membuat baju-baju banyak yang ga muat...
Nah sekarang? Kok semua rok gw longgar ya? Dasar ya karet-karetnya pada melar semua...Jam tidurnya berubah, bisa kadang dalam 1 minggu gw 2 kali ga tidur @30 jam, berarti dalam 1 minggu, gw bisa ga tidur 60 jam... Wow... hebat.. Trus dari kampus juga ada acara camping lg ke lembang... You know lah... kan dingin bangeut.... Alhasil 'asma' gw kambuh ga ketulungan... Ngik-ngikan terus, meler terus... Alhamdulillah ceu restu and the gang berhasil menculik gw malam itu juga balik ke bandung... Tapi teteup aja asmanya makin parah... Ampe gw masuk UGD, di nebu 3 kali, disuruh rawat, tapi gw ga mau dirawat, gw istirahat aja di kosan, ampe demam dan besoknya ga bisa masuk deh... Kemudian hari-hari dijalani dengan asma yg seneng banget datang menemani hari-hariku.. Ampe klo banyak ketawapun asmanya kambuh, bawa inhaler ke mana-mana... hahahaha... Sampai suatu hari pos jaga tuh, gw tumbang, biasalah habis jaga pasti molornya lama banget... Tapi saat itu kok erasanya aneh banget, badan rasanya berat tapi terasa melayang, alhasil pas bangun tidur, mo ke kamar mandi tiba-tiba gw jatuh, ga kuat berdiri, pas gw raba kening gw... Masya Allah, panas banget, ambil termometer 38,5... Ya Allah demam toh... Pagi itu gw dilarikan anak kosan pake motor ke UGD... Gw ngerjain anak-anak yg jaga lg deh.. Baru seminggu yg lalu serangan asma... Sekarang kenapa lg sih? Ga tau lah, gw ngerasa lemas aja, ternya setelah ditensi 90/60...Masya Allah... Ternyata gw harus dirawat..hiks hiks... padahal 4 hari lg kan ujian... Dirawat 4 hari di RSHS lumayan berkesan juga,disamping ngerasain jadi pasien yang ternyata ga enak bangeeetttt,  gw juga kembali berfikir.. Hidup gw yang sekarang kan atas kemauan gw, pernah terlintas dipikiran, apa gw sanggup menjalani hari-hari ke depannya?? Hidup yang kadang gw mencoba berkhayal andai badan ini bisa dibelah seperti amuba hahahaha... biar bisa ngerjain pekerjaan sekaligus... yang kata adek gw... Sekalian lu bawa aja tu baju-baju, buku-buku, trus ngekosnya di mesko aja hahahaha...yang dalam kehidupan sekarang amat sangat merindukan hari libur... ternyata pun pas udah bikin rencana buat berlibur nie ama si adek ato teman mo jalan or nonton, tiba-tiba harus mau ngegantiin teman jaga coz anaknya lg sakit ato dianya juga lagi sakit.. Baru seminggu yang lalu gw ternyata libur di hari sabtu, dah buat rencana jalan-jalan, creanbath, nonton ama sobat yang beberapa minggu lagi akan melanjutkan pendidikannya di jogja, hitung-hitung reunian, wah pokoknya rencananya dah mateng lah dari malam.. Paginya gw baru merasakan kembali baru bangun dari molor jam 7 pagi, karena kebetulan lg 'ga shalat' jadi ga nyubuh deh.. Pas gw ditelpon mo ketemuan di mana, ditelpon lg, tapi ama mak-mak..." Ra, gantiin teteh hari ini ya, anak teteh sakit, yg lain ga bisa ra..." Gubrak...ini jam berapa teh? kenapa baru nelp pagi ini? ldah jam tujuh, ntar klo aku telat gimana?..." Ntar aku yang telp seniornya deh, bilang klo ira telat datang gantiin aku"... wew... jalan2nya batal deh :(
Ini bukan todongan yang pertama, 2 minnggu yang lalu gw juga ditodong ama teman, baru selese ujian lg... kebayang kan malamnya gw begadang krn masih bodoh alias belajar krn besoknya mo ujian bedsite... Gw baru kebagian jaga lusa ceritanya... Gw juga punya rencana habis ujian, mo ke kantor polisi, mengurus atm gw yang hilang, selanjutnya ke Bank.., trus jalan2, makan diluar ama teman... Ternyata ditodong lg 5 menit sebelum pukul 15.00, sebelum jaga sore dimulai.. Ra, gantiin gw jaga ya, gw dikasih tugas nih ampe sore cari pasien lg", kata sih akang ketua... Hah? sekarang kang? yg lain ga ada yg bisa, 2 org baru jaga, 2 orang kan mo ujian besok. Gw kan belum tidur..... gw kan mo urus atm, dah ga punya duit ni... Kapan lg mo ke banknya... huhuhuhu... gw kan juga ga bawa laptop, ga bawa baju jaga buat jaga dan besok... "Tapi kan bisa dianterin adek lu ra" huhuhu... Ya udahlah, gw jaga deh (dengan berat hati, gw juga berfikir, dulu waktu gw sakit mereka pasti jg begini, rela-relain gantiin gw jaga)... Alhasil sore itu ampe besok pagi gw jaga ugd dunkz... hahaha, ternyata cm bisa tidur di meja setengah jam.. Tapi malam itu, Alhamdulillah... Gw iseng nanya ke satpam barangkali ada yg nemuin ATM gw... Dan ternyata 5 menit kemudian datanglah seorang Bapak Security... "Dok, ini ATM dokter bukan", saya ketemu 2 hari yg lalu, di lantai... Masya Allah, ternyata Allah balikin ATM gw malam itu juga (tau kali klo gw bener2 dah kere dan ga punya waktu ke bank ambil duit, heheheh). Alhamdulillah, isinya ga ada yg kurang...
Malangnya seminngu yang lalu, ATM itu kembali hilang, gw baru menyadari hilangnya setelah 2 hari dari tarik tunai terakhir saat jaga ugd gantiin si teteh yang anaknya sakit... Gw buru2 blokir... Kata operator, ATM gw setengah jam yg lalu diblokir ama kantor cabang terdekat. Kok bisa ya? Akhirnya besoknya gw sempetin tu ke bank, tujuannya sih ambil duit, persedian dah menipis, tau-taunya pas di Bank malah dibilangin klo kemarin sore ada yang mengantar ATM tersebut ke bank... Tapi orangnya ga mau dikasih tau identitasnya. Ya sudahlah... Alhamdulillah, ternyata masih rezeki gw... Gw baru nyadar, itu duit kan dari beasiswa, tapi belum sempat dizakatkan... Masya Allah... Ternyata Allah menegur dengan sangat indah... Memberi banyak sekali hikmahnya... Klo kita melapangkan orang, percaya saja, Allah jauh akan melapangkan urusan kita...
Dua hari yang lalu yudisium yang kedua, pengumuman kemajuan yang kedua dalam kehidupan baruku... Dipanggil satu persatu ama" ibu kepala sekolah" kita.. Masih deg-deganjuga rupanya... "Hasnur, gimana asma kamu masih sering kambuh ga", kamu harus fighting ya"... Insya Allah dok...
Terima kasih buat teman-temanku semua, keluarga baruku, para senior, supervisorku yang sabar sekali dalam mengajarkan aku... I love U alll... (Maafkan klo terkadang aku banyak errornya)
Bahagia, 2 bulan lagi dapat anggota keluarga yang baru... Selamat bergabung... :)
Dah ngantuk ah, rencananya besok mo jalan-jalan, facial, creambath, senang banget, kan ga jaga... Eh, barusan dapat sms klo besok ada simposium, wajib datang... Ya, sudahlah, mungkin harus begitu, ilmunya masih kurang banget, jadi harus belajar dulu baru jalan-jalan...

Note : Dipublish kembali di blog baru...

Pekerjaan kita cuma memberi

Rezeki kita adalah urusan pribadi kita dgn Allah. Maka jadilah orang yg slalu dperhatikanNya. Itu berarti kalau mau diperhatikan kita harus dahulu memperhatikanNya. Hadirkanlah Dia disetiap nafas kita, langkah kita. Jangan pernah cemas teman bagaimana rezeki kita nanti slama apa2 yg kita usahakan enjoy kita lakukan & diridhoi sama Allah. Saya selalu ingat kata2 Ust. Yusuf mansur. Pekerjaan kita d dunia ini hanya memberi. Bagaimana dan apa yg akan kita terima itu urusan Yg Di Atas.. Insya Allah prinsip ini akan terus saya pegang. Doakan ya teman2ku. Alhamdulillah beberapa bulan terakhir ini banyak kejutan2 istimewa yg selalu menghampiri saya. Mungkin suatu saat nanti akan saya publish d sini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin!

Ajari Aku Arti Keikhlasan

Bagaimanakah belajar ikhlas?. Memang sangat sulit mempunyai hati yang seluas samudera dalam memaafkan saat kita dikecewakan atau tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Belajar dari setiap orang-orang yang setiap hari lalu lalang di depan mata, serta belajar saat diri ini berkaca. Sangat sulit mencari apa itu ikhlas. Selalu saja keinginan mengalahkan kesadaran. Padahal kalau kita semua sadar bahwa kita tidak memiliki apapun di dunia ini, kita tidak ada hak untuk semua yang kita ‘miliki’. Lalu bagaimana ikhlas dalam mencintai?. Jika syarat utama dari cinta adalah keihlasan, siapakah yang sanggup untuk menjadi pecinta sejati?. Ternyata untuk mengenal cinta sejati Nya sangat sulit dipelajari hanya dengan mencintai seorang manusia. Kecewa, sakit hati , merasa bersalah menjadi anak-anak tangga menuju arti cinta yang sebenarnya. Bagaimana kita bisa melewati tahapan-tahapan itu?. Dapatkah kita mempunyai setitik saja sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim Nya?.

Memilih yang lebih baik antara mencintai atau dicintai tidaklah penting. Karena kita tidak mungkin hanya akan berada pada satu kondisi "mencintai" atau "dicintai" saja. Hidup kita akan diisi oleh keduanya secara bergantian dan terus-menerus. Mungkin suatu saat kita berada pada posisi mencintai, tapi di saat yang sama atau di saat lain pasti kita berada pada posisi dicintai. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa belajar saat kita mengalami salah satu atau keduanya. Dan yang lebih penting lagi, pasti akan ada saatnya dimana mencintai dan dicintai bakal ketemu…Insya Allah. Semoga bahagia selalu bersama kita di mana mencintai dan dicintai sudah bertemu… :) Amin.


Ya Tuhan
Terangilah jiwa di hitam jalanku
Jalan dalam menuju cinta-Mu
Ya Rabbi
Panggilah hatiku lagi
Berikan kesempatan waktu kembali pada jalan-Mu saat hati ini mencintai berlebih kepada selain-Mu
Kembalikan cinta yang telah dibawa pergi…
Ikhlas..
Kapankah menyatu bersama ibadah…
Berdetak bersama alunan shalawat
Berselimut dalam tidurku…
Ya Allah..
Kiranya hanya hidayah Mu
Hingga ikhlas merekat bersama niat
Amin Ya Rabbal ‘alamin…