Jumat, 04 November 2011

Sekeping Perjalanan Penuh Syukur (part 1)

Alhamdulillah, sudah 3 tahun titel dokter saya sandang... Disaat kuliah dulu, pengen banget cepat-cepat lulus, gimana sie rasanya jadi dokter itu? Pengen rasanya cepat-cepat berakhir hari-hari Koasisten yang katanya melelahkan, tugas-tugas yang banyak, jaga, perceptoran..

Sekarang, cita-cita itu saudah menjadi kenyataan, awalnya meras lega banget, berakhir sudah masa-masa melelahkan. Ternyata, Alhamdulillah saya cepat sadarnya, kalau masa itu adalah awal sebuah perjuangan, masa berbakti kepada masyarakat, mempraktekan ilmu yang sudah didapatkan di dunia nyata. Saya pernah bekerja di Puskesmas selama lebih kurang 1,5 tahun, berada di daerah yang masih kental dengan budaya masyarakatnya. Banyak cerita terukir di sana. Nanti ada masanya saya akan bercerita bagaimana suka-dukanya di sana.

Saat ini saya sedang menjalani masa residensi, saat yang membuat ritme hidup saya begitu tidak karuan hahaha.. Pada awalnya saya sempat pesimis, berpikir 'mo jadi spesialis kok susah amat sie, ribet amat, banyak banget pengorbanannya', korban harta, benda, tapi yang paling sadis korban perasaan huhu :(

Alhamduliilah perasaan seperti itu hanya sesaat saja. Berkat nasehat para senior, guru-guru dan konsulen tercinta perasaan tersebut lambat laun menjadi optimis...Semua perjalanan ini harus dinikmati, harus dijalani dengan segenap rasa syukur. Ternyata cuma satu rahasianya, berkacalah pada pasien-pasien kita... Saya baru merasakan saat paling sulit selama saya menjadi dokter atau menjalani masa residensi adalah, bukan saat ujian, bukan saat mo visite, atau bukan pada saat konfrensi klinik ataupun laporan kematian.. Saat paling sulit adalah pada saat mengatakan kepada pasien dan atau keluarganya tentang penyakit yang dideritanya, 'informed consent'.. Sampai saat ini saat yang paling sulit adalah mengatakan kalau pasien saya terinfeksi HIV-AIDS atau gagal ginjal kronik yang harus mendapatkan terapi penggantian ginjal atau hemodialisis atau yang sering kita sebut 'cuci darah' seumur hidup...

Berbicara mengenai penyakit HIV-AIDS, saya punya cerita tersendiri. Kebetulan saat ini saya sedang berada di sub divisi Infeksi, di mana setiap hari bertemu dengan pasien yang notabene terkena infeksi, baik infeksi bakteri sepeti demam tifoid, infeksi parasit, infeksi jamur dan infeksi virus seperti demam berdarah atau HIV-AIDS. Hampir setiap hari saya bertemu dengan pasien-pasien HIV-AIDS. Dulu mungin saya tidak begitu kaget karena pasien-pasien yang datang ke emergensi Insya Allah mudah dikenali, feeling kita sebagai dokter cepat mengatakan kalau ini pasien AIDS, karena datang sudah stadium III atau IV, di mana hampir di seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki dipenuhi infeksi oportunistik, infeksi yang terjadi karena menurunnya daya tahan tubuh karena terjangkit virus HIV-AIDS. Apalagi yang bisa menerangkan keadaannya kalau bukan ada suatu infeksi yang menyerang pertahannan tubuhnya... Mulai dari meningitis, infeksi otak karena tuberculosis, criptocoocus, toxoplasmosis atau karena HIVnya sendiri. Kemudian infeksi jamur di dalam mulut, tenggorokan yang membuat pasien nyeri menelan, atau tidak nyaman dalam makan atau minum, infeksi paru-paru karena tuberculosis atau jamur lain, infeksi usus karena tuberculosis di mana pasien akan mengeluh buang air besar mencret yang lama atau kronik (lebih dari 14 hari yang tidak sembuh-sembuh walaupun sudah diobati) sehingga terjadi penurunan berat badan pasien yang drastis. Infeksi opportunistik kadang sampai ke kulit, di mana akan tumbuh beruntus-beruntus merah seperti cacar, gatal, hampir di seluruh tubuh yang sering disebut 'Papular Pruritic Eruption'. Masih banyak lagi infeksi opportunistik lain yang isa menyerang orang-orang yang terinfeksi HIV ini..
Pada saat pasien datang dengan kodisi seperti itu, yang ada dalam otak adalah AIDS. Untuk membuktikan itu harus ada suatu pemeriksaan darah, yaitu pemeriksaan Anti HIV yang positif.. Masalahnya lagi untuk melakukan pemeriksaan ini kita harus seizin pasiennya dulu. Banyak dokter, terutama saya mengalami kesulitan untu bicara di sini, mengingat HIV-AIDS masih sangat tabu di negara kita. Pasien, keluarga, bahkan masyarakat kita belum bisa menerima keberadaan penyakit ini. Kemudian tidak sampai disitu, jika pasien sudah setuju dan diketahui positif, tugas kita selanjutnya adalah memberi penjelasan bahwa istri, pasangan atau anak mereka juga harus diperiksa, menginggat virus ini bisa ditemukan di dalam darah, cairan kelamin dan air susu ibu.
Sebelum memulai pengobatan HIV-AIDS, dimana obatnya harus diminum seumur hidup, pasien harus menjalani 'konseling adherence' dulu, konseling mengenai kepatuhan dalam pengobatan. Pasien harus mengetahui kalau dia harus minum obat setiap hari tepat waktu. Sebelumnya jika pasien dengan infeksi oppotunistik, infeksi opportunistiknya harus diobati dulu sampai beberapa waktu tertentu. Kemudian juga sebelum memulai pengobatan, pasien harus menjalani beberapa pemeriksaan darah seperti keadaan darah, ginjal, hati karena beberapa obat mempunya efek samping seperti anemia, toksik terhadap hati atau ginjal. 

Sebagaimana yang telah saya ceritakan tadi, bertemu dengan pasien-pasien HIV stadium III-IV atau yang sudah dibilang AIDS tidaklah begitu kaget karena mudah dikenali... Lalu bagaimana dengan mereka-mereka penderita HIV stadium I dan II. Pada stadium I pasien tidak punya gejala, mereka sama seperti orang normal kebanyakan, pada umumnya mereka mengetahui diri mereka positif saat disarankan diperiksa karena sebelumnya diketahui pasangan mereka positif atau pasangan mereka yang masih muda meninggal dunia karena katanya terkena penyakit infeksi berat. Begitu juga dengan anak-anak mereka yang diketahui positif saat saat orangtuanya diketahui positif HIV.
Atau malah ada ketika seoarang anak sakit, terkena diare begitu lama, sudah diobati tapi tidak sembuh-sembuh, saat diperiksa HIV ternyata positif. Kita juga harus menawari kedua orangtuanya untuk periksa HIV. Banyak pasien-pasien baru mengetahui jika dirinya terkena HIV saat anaknya sudah diketahui HIV.

Bercerita tentang keseharian saya, bertemu dengan mereka-mereka yang setiap bulan harus ke poliklinik, kontrol, mengambil obat begitu membuat saya banyak mengucap syukur. Banyak pelajaran yang dapat saya ambil di sini.. Ada seorang yang dulunya pemakai narkoba suntik, sekitar 10 tahun yang lalu dia pemakai bersama 10 orang temannya, dia bercerita begitu bersyukurnya ia ketika dia mengetahui dirinya terkena HIV saat masih stadium II, dia masih sempat menjalani pengobatan ini, masih diberi kesempatan untuk mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang positif, karena 8 temannya yang lain sudah mendahului dia, ada yang meninggal diketahui positif, sempat menjalani pengobatan, bahkan ada yang meninggal dunia belum sempat diperiksa HIVnya.
Ada seorang yang ibu muda, yang sudah ditinggal mati suaminya, saat itu dokter menganjurkan dia dan anaknya untuk mau melakukan pemeriksaan HIV, karena suaminya meninggal karena HIV. Ternyata si 'Ibu muda' possitif, tetapi Alhamdulillah anaknya yang baru berusia 4 tahun negatif.. Kebayang ga sih, bagaimana perasaan si Ibu, sudahlah ditinggal suami, dia juga sebagai korban ikut positif, harus membesarkan anaknya seorang diri. Dia bercerita kepada saya, saat pertama mengetahui dirinya positif, dia tidak bisa menerima keadaan ini, dia sempat mengurung diri di rumah selama 1 tahun, dia tidak mau keluar rumah karena malu sama tetangga. Anaknya diurus oleh orangtuanya. Syukurlah dia capat sadar, jika dia seperti itu siapa lagi yang akan menemani dan membesarkan anaknya? Dia tidak mau terpuruk begitu lama dengan kondisi seperti itu, dia bangkit, setiap hari dia berdoa dalam sujud panjangnya di sepertiga malam. Pada saat itu kadar CD4 nya masih tinggi, dia berada di stadium I, tanpa gejala apa-apa. Dokter memutuskan untuk belum memulai pengobatan pada ibu ini, yang harus dilakukan ibu ini adalah selalu menjaga kesehatan, menjani pola hidup sehat dan selalu kontrol setiap 3 bulan, dimana jika ditemukan CD4 yang menurun atau atau gejala klinis barulah pengobatan dimulai. Sudah 2 tahun ibu ini saat pertama kali dia diketahui mengidap HIV, tapi sampai saat ini CD4nya bagus tanpa ada gejala klinis, tidak dalam pengobatan. Ibu ini sekarang aktif sebagai nara sumber dalam acara-acara penanggulangan HIV-AIDS.. Subhanallah...

Pernah saya berikir, bagaimana dengan mereka yang sudah diketahui HIV positif, mereka masih sangat muda, bagaimana hidup mereka ke depan, khususnya mereka yang terkena HIV korban dari pasangan mereka sebelumnya? Mereka ingin menikah?. Bagaimana dengan mereka, apakah ada yang mau dengan mereka yang sudah diketahui mengidap HIV-positif? Allah begitu sangat menyayangi hambanNya.. Ada seorang yang diketahui HIV positif, dulunya terdampar dalam pergaulan yang salah, berteman dengan pemakai narkoba suntik sampai ikut terjerumus. Ketika dia insyaf, dia sampai tidak percaya ada yang mau menikah dengan dia, sampai dia bilang.. Dulu, 'Love is blind dok, saya begitu mencintai narkoba dari apapun juga sampai setiap pake buta, itu jarum punya siapa, ga penting, yang penting saya fly'... Kalau sekarang 'Love is a miracle. Ada seseorang yang akan menemani kehidupan saya ke depannya, yang selalu akan menyemangati saya dalam menjalani kehidupan ini, yang akan mengingatkan saya untuk minum obat hehehe'.. 
Setiap saya mendengar cerita dengan mereka yang positif yang sedang dalam pengobatan, mereka begitu sayang sama keluarganya, sayang sama pasangan, sama anak-anaknya, baik yang juga positif maupun negatif.. Mereka begitu menjaga anak-anaknya dari pergaulan bebas... Mmmhhh, tidak mau kejadian itu terulang kepada generasi berikutnya.

Tetapi tidak semua cerita begitu indah. Saya masih punya pasien yang belum bisa menerima dirinya, belum bisa menerima pasangannya, saling menyalahkan dan akhirnya bercerai.. Ada juga yang masih belum bisa berubah, masih asyik dengan 'pesta fly nya', walaupun mungkin dengan jarum yang sudah tidak berbagi, sex bebas yang tidak bertanggung jawab akan penularan kepada orang lain.

Sudah 1,5 bulan saya intens dengan pasien-pasien ini, begitu saya menyadari bahwa perjalanan ini selalu penuh dengan hal-hal yang harus saya syukuri, perjalanan yang terus membuat saya bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepada saya. Perjalanan yang harus membawa manfaat pada sesama, semoga profesi ini dan cerita yang saya bagi dapat memberi hikmat bagi setiap yang membacanya.

Buat para teman-teman semua mari kita bersama-sama mewaspadai terjangkitnya HIV-AIDS ini karena saya begitu percaya ini baru sebagian kejadian yang terdeteksi, terpapar oleh pelayanan kesehatan, ibarat fenomena 'Gunung Es', masih banyak yang masih tersimpan, tidak tersentuh, baik karena ketidaktahuan ataupun merasa malu atau masih tabu dengan penyakit ini.
Marilah kita sama-sama menjaga diri dan keluarga kita dari hal-hal yang bisa menjadi faktor resiko terjangkitnya penyakit ini. Jika ada diantara saudara, atau teman dekat kita yang terkena, jangan dikucilkan, perlakukanlah sebagaimana orang biasa, jangan menambah beban mereka.

Ditulis saat sehari bisa liburan @ Kosan, saat jari-jari ini sudah sangat gatal untuk menulis :)

Semoga bermanfaat :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar